0
28 Mei


Pigmen Sentimen

28 Mei 2013

merah menyerah
putih merintih
biru mengharu
kuning menghening
hijau meninjau
coklat menduplikat
abu-abu menabu
jingga menghingga
pink berkeping
ungu, termangu
hitam, terhantam !

(furqonaisha.abatasa.com)

Dikirim pada 28 Mei 2013 di Sastra dan Humaniora


Hari Tanpa Melodi

-17 januari 2012-

mimpi itu datang lagi
mengacau jelang pagi
walau pesan yang terkatakan
tak pernah ku raih dalam ingatan
hangat mentari mengikat
seperti biasanya hujankan hangat
tak terdengar embun
meski tirai awan kian terangkat
dan nyala mataku kian turun
ruangan tersegi apa-adaanya
tanpa angin riuh mengalun
di bawah langit biru hanya
entah kenapa, enggan ku bertanya
kenapa hari berputar maju?
padahal belum tentu asa setuju
sebentar saja terik melaju
sore pasang jingga dengan malas
naungi mimpi yang tak jelas
undang mimpi tak terhitung
Berapa era ku jalani
Tanpamu di hariku bersenandung

(Furqonaisha), jilid ke-4.

Dikirim pada 17 Mei 2013 di Sastra dan Humaniora


-3 juli 2012-

Alkamar berlingkar sempurna
Netralkan rantai letih
Ada syahdu tak bernama
Wajar dalam tirai putih
Redup hidup sekian warna
Ibakan jejak yang tertatih
Nantikan terangnya hangatkan suasana
Atau kadang dinginkan harapan
Redup ketika terhalau awan
Dan layar gelap tak berkawan
Noktah lintang berkerling
Akan diri pada menunggu
Cerah di tinggi tak terganggu
Angin senja menjahit saling
Kilau bulan cantik anggun
Ikatkan afeksa tertegun
Tetap ku berpijak di mana
Selalu kupandangi rona
Alangkah istimewa di atas sana

Dikirim pada 14 Mei 2013 di Sastra dan Humaniora


AKU PULANG, IBU
(22 Desember 2012)

Aku pulang, Ibu..
anakmu membawa dirinya saja, biasa saja
Aku sehat, Ibu..
anakmu masih bisa membaca dan mengeja
hanya saja,
Aku tengah keletihan, Ibu..
anakmu menjelajahi waktu dan tak mampu menjangkaunya
tenang saja,
Aku masih tersenyum, Ibu..
anakmu bisa membagi bagi siapa saja , kecuali dirinya
Aku seperti dulu, Ibu..
anakmu akan jujur ketika kau bertanya
namun ,
Aku minta maaf, Ibu..
anakmu tengah kehilangan keajaibannya , alasan , dan tujuannya
Aku tidak mengerti, Ibu..
anakmu terlalu naif untuk pintar mengambil dunia
karena
Aku laki-laki, Ibu..
anakmu juga bisa terluka dan berdarah tentunya
tetapi,
Aku tahu diri, Ibu..
anakmu tidak akan melibatkanmu dalam semuanya
Aku janji, Ibu..
anakmu tidak akan melepas kendali udaranya
Aku hanya berharap, Ibu
Ibu tidak perlu menjadi keajaiban, alasan , ataupun tujuanku
Ibu tetaplah menjadi Ibu ,
karena
Anakmu sayang Ibu..

Dikirim pada 30 April 2013 di Sastra dan Humaniora
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

seperti angin yang menembus batas seperti air yang tak mengalir ke atas seperti api yang menghangatkan seperti bumi yang ingin menjadi pijakan bagi siapa yang pantas diangkasakan.. More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 374.419 kali


connect with ABATASA